Minggu, 27 Mei 2012

Aku Ingin Mabuk, Gila, dan Gembira...karena Cinta

Diam sendiri
Nikmati gerimis malam ini
Menanti kerinduan akan satu suara tertumpahkan
Bersama sebaris angan
Kubumbungkan asap menuju langit yang pekat keprihatinan

Diam bersunyi
Karena bulan telah mati
Butir kecil di rambutku terurai menjadi mimpi, bukan air lagi
Dan di dalamnya kusertakan pesan kepada Tuhan
Jangan cerabut nyawaku hingga empat jam lagi

Diam menyepi
Rasakan cinta yang sudah mati
Menunggu-nunggu waktu pada tiap degup menderu
Sambil mencaci diri
Yang tenggelam di laut air mata sendiri

Luka pedih ini
Adalah rongga gelap dalam dadaku
Begitu tersembunyi, hingga darahnya tak kukenali
Dan aku tak pernah tahu lagi
Apakah belulang ini pun masih menjadi tenda bagi jiwaku
Atau cuma penyangga asa
Yang menyulut kemegahan maya

Jerit tanpa suara ini
Adalah duri di balik jantungku sendiri
Tapi tak apa,
Jika memang dewi cinta belum berpihak
Akan kutunggu hingga ia menghampiriku
Mencabut onak di tiap rasa ngilu
Rangkaikan semua duri menjadi kembang ungu

Dan bukankah mawar mekar di antara duri?
Seperti halnya cintaku yang sekarat dan mati ditikam cinta itu sendiri
Sementara ruhnya menjadi mutiara di samudera abadi
Tempat berlabuh semua lagu pemuja rindu
Tempat berpaut segala syair kekasih sejati

Kini, takkan lagi kusembunyikan hati
Aku ingin membuat diriku mabuk, gila, dan gembira
Karena kutahu pasti
Senyum akan datang seusai air mata
Dan robekan kesengsaraan takkan menganga lagi

Kebahagian

Kebahagiaan adalah penderitaanmu yang tak bertopeng,
atau sumur di mana tawamu seringkali bercampur dengan airmata.
Semakin dalam penderitaan terukir,
semakin banyak pula kebahagiaan tertuai.
Bukankah wajan yang terisi makanan lezat adalah logam yang dibakar?
Bukankah mutiara yang kau kenakan adalah derita bagi sang kerang?
Dan bukankah kecapi yang menyejukkan jiwamu adalah kayu yang dilubangi oleh pisau?

Ketika kau bahagia, lihatlah dalam-dalam hatimu,
dan kau akan menemukan bahwa yang telah memberimu penderitaanlah yang dapat memberimu kebahagiaan.

Saat kau menderita, lihat lagi ke dalam hatimu,
dan kau dapat menyaksikan dengan kebenaran,
bahwa kau menangisi apa yang telah menjadi kegembiraanmu.

Bahagia dan derita, keduanya tak dapat dipisahkan.
Bersamaan mereka datang,
dan ketika yang satu duduk sendiri bersamamu,
ingatlah bahwa yang satunya lagi tertidur di ranjangmu…

Ada 530

530 ? Apa itu?
Apakah itu Tipe HP? Nomor togel? Skor TOEFL? Atau makhluk sejenis angka keramat?
Bukan... bukan...!!!
Lalu apa?

Limaratus tigapuluh adalah jumlah hari ketika tak ada lagi sapa antara kita.
Limaratus tigapuluh adalah jumlah malam sejak desau suaramu tak lagi menggetar telingaku.
Limaratus tigapuluh adalah jumlah saat empat pertanyaan yang bungkam tanpa jawab.
Limaratus tigapuluh adalah jumlah kekeliruan teknologi yang tak bisa dimaafkan.
Limaratus tigapuluh adalah jumlah putaran jarum arlojiku yang baru berakhir tadi.

Limaratus tigapuluh itu kini berakhir, dalam gerimis sehabis maghrib.
Limaratus tigapuluh itu kini usai, dalam tiap potongan ayam panggang.
Limaratus tigapuluh itu kini tenggelam, dalam seteguk teh di gelas berembun.

Hidup didetik-detik.

Hidup ini terurai menjadi rangkaian detik-detik.

Dan di tiap detiknya, manusia selalu dihadapkan pada beragam pilihan.

Ada orang yang memutuskan apa yang terbaik buat dirinya di suatu detik, namun ia menyesal setelah di detik berikutnya ternyata ia temukan apa yang menjadi impiannya.

Ada pula orang yang cukup bersabar menunda kebahagiaan di suatu detik, karena ia merasa yakin bahwa penderitaan di detik itu akan terlunasi dengan perwujudan impiannya di detik berikutnya.

Dan, sebagian lagi adalah orang-orang yang sangat berani, melepaskan atau mengorbankan bahagia yang sedang direngkuhnya di suatu detik, demi menyongsong harapannya yang lebih cerah, yang ia sangat yakini akan diperoleh di detik-detik berikutnya.

Di detik sebelah manakah kita kini?
Dan termasuk manusia manakah kita dalam menghirup setiap detik yang ada? Dalam setiap keberanian membuat pilihan? Hingga kelak tak ada lagi detik yang tersisa di ujung perjalanan kehidupan?


** Kupersembahkan bagi mereka yang di hatinya ada rasa sesal, karena telah membuat keputusan yang terlalu cepat..


Sudah terlalu lama puisi-puisi ini kutidurkan dalam benak,
hingga nyaris beku.

Dan lama pula aku tak bangkit
dari matiku yang panjang.

Namun di saat matahari kebangkitan ini
akan terbit sehasta lagi,
ruhku baru sadar,
bahwa saat aku mati
kau membunuhku lagi berkali-kali.

Aku mati,
namun kau tetap saja mencabuti nyawaku
seolah itu masih bersisa.

Tak heran,
andai mimpi mewujud nyata adalah kekeliruan besar.
Karena saat bulan kehidupan akan bersinar sedepa lagi,
kau masih saja mencabikku berkali-kali.

Bahagia dan sedih
Tetap aku dalam sunyi?

Rahasia Perjuangan Hidup

Kita memohon Kekuatan…
Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.

Kita memohon kebijakan…
Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran…
Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
Kita memohon Keteguhan Hati…
Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.
Kita memohon Cinta…
Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati…
Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Bersyukurlah karena kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan,
seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan.
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu,
karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit,
karena di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu,
karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru,
karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Selasa, 22 Mei 2012

Renungan Hidup

Ada beberapa tingkatan kualitas manusia. Manusia bodoh, Manusia Pintar, Manusia Licik dan Manusia Beruntung. Manusia bodoh, dikalahkah manusia pintar. Manusia pintar sering kalah oleh manusia licik. Dan manusia licik tidak bisa mengalahkan manusia beruntung. Dengan kata lain, manusia beruntunglah termasuk manusia dengan kualitas yang tidak terkalahkan.
hidup digambarkan seperti aliran air di sungai. Sebelah pinggir kali bernama kesenangan, sebelahnya lagi bernama kesedihan. Sebagaimana kehidupan yang sebenarnya, ada saatnya kita terhenti di pinggir kali kesenangan, ada kalanya terhenti di pinggir kali kesedihan. Apapun nama dan jenis pinggir kalinya, tidak perduli kita sedang senang atau sedih, sang hidup akan senantiasa berjalan. Sehingga, siapa saja yang memusatkan perhatian pada pemberhentian sementara di pinggir kali, ia pasti tidak puas. Sebab, pinggiran kali hanyalah bentuk lain dari kesementaraan. Keabadiaan, demikian keberuntungan-keberuntungan terakhir mengajarkan ke saya, ada dalam kenikmatan untuk mengalir dengan sang perubahan.
Dalam keheningan kesadaran seperti ini, saya (dan juga Anda ?) memang tidak pernah lahir dan tidak akan pernah mati. Yang mati dan lahir hanyalah tubuh. Dan diri ini yang terus mengalir tidak mengenal kamus kelahiran dan kematian. Sama dengan air yang mengalir di sungai, yang tidak hilang dibawa matahari, maupun tidak hilang ditelan bumi, ia menghadirkan gemercik-gemercik kegembiraan.
Banyak manuasia memang mendapat banyak dipuji dan dilayani. Dan saya paham, jabatan dan atribut-atribut sejenislah yang membuatnya demikian. Suatu saat ketika atribut itu tidak ada, bukan tidak mungkin makian dan kebencian yang datang. Dan ini juga ditujukan pada ketiadaan atribut. Dan manusia yang mengalir memang tidak pernah disentuh pujian dan makian. Jadi kenapa mesti tertawa ketika dipuja, dan kenapa juga mesti berhenti bernyanyi ketika dimaki ? Bukankah keduanya tidak ditujukan pada diri ini yang terus mengalir ?.
kenapa manusia bisa begitu berat dalam menjalani hidup dan kenapajuga dia bisa merasa terbang, Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, ada seorang yang mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: “Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation.”
Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas.
Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan.
Kenapa kita harus benci, jika itu membuat dirikita terbebani kenapa kita tidak pasarh untuk mencintai, Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: “The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral.” Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.
Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapa bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: “Menjadi semakin sempurna di jalan kerja”. Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.

Motivasi Permasalahan

Pemenang dan Pecundang

pemenang selalu jadi bagian dari jawaban;
*****dang selalu jadi bagian dari masalah.

pemenang selalu punya program;
*****dang selalu punya kambing hitam.

pemenang selalu berkata, "Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda";
*****dang selalu berkata, "Itu bukan pekerjaan saya";

Pemenang selalu melihat jawab dalam setiap masalah;
*****dang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban.

Pemenang selalu berkata, "itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa";
*****dang selalu berkata, "Itu mungkin bisa, tapi terlalu sulit".

Saat pemenang melakukan kesalahan, dia berkata, "saya salah";
saat *****dang melakukan kesalahan, dia berkata, "itu bukan salah saya".

Pemenang membuat komitmen-komitmen;
*****dang membuat janji-janji.

Pemenang mempunyai impian-impian;
*****dang punya tipu muslihat.

Pemenang berkata, "Saya harus melakukan sesuatu";
*****dang berkata, "Harus ada yang dilakukan".

Pemenang adalah bagian dari sebuah tim;
*****dang melepaskan diri dari tim.

Pemenang melihat keuntungan;
*****dang melihat kesusahan.

Pemenang melihat kemungkinan-kemungkinan;
*****dang melihat permasalahan.

Pemenang percaya pada menang-menang (win-win);
*****dang percaya, mereka yang harus menang dan orang lain harus kalah.

Pemenang melihat potensi;
*****dang melihat yang sudah lewat.

Pemenang seperti thermostat;
*****dang seperti thermometer.

Pemenang memilih apa yang mereka katakan;
*****dang mengatakan apa yang mereka pilih.

Pemenang menggunakan argumentasi keras dengan kata2 yang lembut;
*****dang menggunakan argumentasi lunak dengan kata2 yang keras.

Pemenang selalu berpegang teguh pada nilai2 tapi bersedia berkompromi pada hal2 remeh;
*****dang berkeras pada hal2 remeh tapi mengkompromikan nilai2.

Pemenang menganut filosofi empati, "Jangan berbuat pada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat pada Anda";
*****dang menganut filosofi, "Lakukan pada orang lain sebelum mereka melakukannya pada Anda".

Pemenang membuat sesuatu terjadi;
*****dang membiarkan sesuatu terjadi.

Para Pemenang selalu berencana dan mempersiapkan diri, lalu memulai tindakan untuk menang...
Para *****dang hanya berencana dan berharap ia akan menang ...Nilai Hidup

Pernahkah Anda jatuh pada titik di mana Anda merasa bahwa Anda tidak ingin hidup lagi?! Cobaan hidup yang begitu berat dan tak habis-habisnya seolah menekan Anda begitu berat, sampai-sampai Anda merasa tak kuat untuk bertahan lagi. Hati pun berkecamuk dan mulai sering bertanya sampai kapan Anda bakal hidup seperti ini terus.

Mungkin hal ini lebih banyak dialami oleh seseorang dengan kepribadian yang cenderung melankolis (pemikir yang cermat). Namun, bukan berarti seseorang dengan karakter lain seperti kolerik (tegas dan dominan), plegmatis (stabil), maupun sanguin (si periang yang intim) tidak pernah mengalaminya. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kejenuhan dalam hidup.

Namun, hidup ini bukanlah tentang apa yang Anda rasakan. Hidup ini lebih dipengaruhi dengan kemauan Anda. Kenyataan hidup menuntut kita, mau - tidak mau, untuk menjadi orang yang kuat, tegar, sabar, dan tabah dalam menjalani hidup.

Adakalanya kita kuat, adakalanya kita lemah. Orang bilang ada kalanya kita di atas, ada kalanya kita di bawah. Jika kita ingat hal itu, maka kita tidak akan menjadi orang yang mudah putus asa. Karena apa yang kita rasakan hari ini hanyalah sementara saja.

Tidak mengapa jika hari ini Anda merasa lemah. Tidak mengapa jika hari ini Anda bangun dengan mood yang buruk. Segalanya tidak berakhir di situ. Segalanya tidak berakhir saat Anda merasa semuanya buruk. Karena hidup ini adalah proses dan proses itu baru selesai ketika kita menutup mata untuk selamanya nanti.

Jika hari ini Anda merasa baik-baik saja, maka bersyukurlah, dan tetaplah waspada. Jagalah hati supaya Anda tidak mudah jatuh oleh berbagai tekanan-tekanan yang mungkin bakal timbul. Persiapkan hati dengan kemauan untuk rela menerima segala yang mungkin bakal terjadi.

Namun, jika pagi ini Anda bangun dengan mood yang tidak karuan, maka cepatlah sadar dan milikilah kemauan yang keras untuk bangkit. Kemauan Andalah yang akan menentukan sukses tidaknya hidup Anda, bukan apa yang Anda rasakan. Bersemangatlah!!


Biarlah Sedikit Perkataanmu!

"We women talk too much, nevertheless we only say half of what we know."

Wanita terkenal dengan kemampuan lebihnya dalam hal berbicara. Menurut survei dan kenyataan yang ada, kaum wanita berbicara lebih banyak daripada kaum pria.

Namun, yang jarang diketahui oleh para wanita adalah kenyataan bahwa dalam banyak bicara bakal timbul banyak masalah juga.

Mengapa? Karena saat banyak bicara, kita jadi lalai dalam berpikir. Semua kata-kata tiba-tiba mengalir begitu saja seiring dengan berbagai tanggapan yang ada. Kita tidak mawas lagi dengan kata-kata yang kita lontarkan.

Oleh karena itu, kita perlu selalu waspada dengan perkataan kita. Apakah kita bicara benar tentang suatu hal? Apakah kita bicara pada saat yang tepat? Semuanya itu penting untuk kita waspadai karena perkataan yang telah diucapkan tak mungkin kita cabut kembali.

Berpikirlah sebelum bicara. Karena apa yang kita katakan dapat membuat orang lain bangkit atau jatuh. Apa yang kita katakan juga berpotensi membuat nama seseorang jadi baik atau malah hancur.

Sebelum bicara, ada baiknya kita juga menelaah terlebih dahulu. Ujilah, apakah perkataan ini bakal menyelesaikan masalah atau justru menimbulkan masalah baru. Jika ternyata kita tidak terlalu tahu tentang suatu hal, maka sebaiknya kita diam.

Orang lain juga bisa marah dan menganggap kita sok tahu jika kita bicara atau memberi komentar pada waktu yang tidak tepat. Tak seorang pun yang mau bergaul dengan seorang yang hobi nyeletuk atau sok tahu.

Sadarilah bahwa meski kita tahu tentang banyak hal, namun semua itu tak harus dikatakan.

Selain itu, banyak bicara juga dapat menimbulkan kesan bahwa kita tak dapat dipercaya. Orang bisa berpikir berkali-kali jika ingin menceritakan sebuah rahasia pada kita karena jika sering bicara, maka potensi untuk keceplosan juga makin besar.

Selain itu, banyak bicara membuka peluang besar untuk kita berdosa. Manusia pada dasarnya memiliki sifat egois. Salah satunya adalah kecenderungan suka membicarakan kebaikan diri sendiri dan keburukan orang lain. Banyak bicara pasti menyeret kita masuk dalam liang gosip.

Jika kita memiliki citra penggosip, maka kita akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Nama kita jadi jelek.

Oleh karena itu, jagalah perkataan kita baik-baik. Keluarkan kata-kata yang baik untuk membangun orang lain. Berkata-katalah pada saat yang tepat. Dan, biarlah sedikit perkataanmu, agar minim pula masalah yang ditimbulkan!